Kalian tentu tidak asing dengan kisah sejoli Romeo and Juliet, cinta sepasang kekasih yang kemudian terpisah secara tragis. Di Bali ternyata ada kisah sejenis, mau tau ceritanya????
Di kerajaan Kalianget terjadi wabah penyakit yang banyak memakan korban jiwa, termasuk juga keluarga kerajaan.
Dalam dukanya sang raja berusaha menghibur lara rakyatnya dengan jalan mengunjungi mereka dan memberikan bantuan kepada para keluarga. Pada saat itu sang raja bertemu dengan seorang bocah yatim piatu yang sedang menangisi kematian orang tua dan saudara-saudaranya, terdorong rasa kasih sang raja lalu mengambil si bocah untuk dijadikan abdi raja, I Nyoman Jayaprana begitu nama lengkap bocah yatim itu.
Singkat kata, bencana wabah penyakit berlalu, Jayaprana kecilpun menghabiskan waktunya dilingkungan istana selayaknya keluarga istana, dia juga memperoleh olah kanuragan dari berbagai guru dan ilmu. Setelah menginjak masa dewasa, I Nyoman Jayaprana tumbuh menjadi seorang ksatria pilih tanding yang tampan. Seorang pemuda ganteng nan menawan yang selalu menjadi idaman setiap gadis yang menjumpainya. I Nyoman Jayaprana merupakan abdi kesayangan Raja Kalianget.
Dikisahkan bahwa Ni Nyoman juga adalah gadis idaman setiap pemuda yang menjumpainya. Tidak kurang Sang Ngawa Rat alias Sang Raja Kalianget sangat menaruh hati kepada Ni Nyoman. Setiap pagi Sang Raja naik ke menara yang berada di bancingah. Dari situ Sang Raja memandang ke arah pasar di mana banyak lalulalang gadis-gadis yang berjualan maupun yang berbelanja di pasar. Dari sekian banyak yang lewat hanya satu yang berkenan di hati Sang Raja, dialah Ni Nyoman.
Namun Sang Raja kalah cepat dengan Jayaprana. Sejak pertemuan mereka di suatu pasar, Jayaprana dan Ni Nyoman saling jatuh cinta yang akhirnya bersepakat untuk menikah dan berjanji sehidup semati.
Keinginan Sang Raja tidak dapat dibendung, sehingga membuat upaya untuk menyingkirkan Jayaprana, karena Raja Kalianget tergila-gila pada kecantikan Ni Nyoman. Dengan menggunakan segala tipu muslihat untuk memisahkan pasangan baru ini.
Melalui utusan, Sang Raja meminta Jayaprana untuk melawan musuh yang konon sudah berada di hutan sebelah barat. Dengan ditemani oleh seorang Patih Sawunggaling, Jayaprana akhirnya berangkat walaupun sudah mendapat peringatan dari istrinya yang mendapat firasat tidak baik. Jayaprana meyakinkan istrinya tidak akan terjadi apa-apa namun bila dia tidak kembali dan tercium bau yang sangat harum maka itu artinya jiwanya sudah menuju ke alam sana.
Sesampainya di Teluk Terima, Sawung Galing dengan galaunya menyerang Jayaprana, tapi kesaktian Sawung Galing masih jauh dibawah kesaktian Jayaprana sehingga keinginan tersebut tidak dapat tercapai. Jayaprana kemudian bertanya dengan alasan apa Sawung Galing mau membunuhnya. Dengan penuh penyesalan dan haru Sawung Galing menceritakan titah raja untuk membunuhnya agar dapat mempersunting istri Jayaprana.
Dalam dukanya Jayaprana menyerahkan keris sakti miliknya sebagai satu-satunya senjata yang dapat digunakan untuk membunuh Jayaprana, ia hanya berpesan agar keris dan berita kematiannya disampaikan pada istrinya sebagai bukti kesetiaannya pada titah raja.
Setelah menerima keris itu, dengan mudah patih Sawung Galing membunuh Jayaprana. Kematian Jayaprana juga ditangisi oleh alam, binatang hutan menangis; seekor macan putih tiba-tiba menyerang patih Sawung Galing dan menewaskan sang patih.Dengan berpura-pura meratapi kematian abdi kesayangannya, sambil menawarkan belas kasihan, Prabu Kalianget merayu Ni Nyoman agar mau dibawa ke puri. Permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Ni Nyoman yang telah mengetahui suaminya telah dibunuh oleh suruhan sang raja. Tak sudi menerima perlakuan seperti itu sang raja merasa berang, lalu memaksa Ni Nyoman. Ketika terjadi pergumulan dengan sang raja, Ni Nyoman menarik keris sang raja untuk menikam dirinya sendiri. Dari jasad istri Jayaprana tersebut mengeluarkan aroma wewangian yang menyerbak keseluruh wilayah kerajaan bahkan tercium hingga lokasi jasad Jayaprana berada (di Teluk Terima). Dari kejadian ini istri Jayaprana dikenal dengan nama Ni Nyoman Layonsari (layon = mayat, sari = mewangi).
Melihat hal ini sang raja menjadi kalap lalu membunuh setiap orang yang mendekat padanya. Kisah ini berakhir secara tragis dengan tewasnya raja Kalianget di tangan rakyatnya sendiri.
Kemudian rakyat membawa jasad yang mewangi tersebut untuk ditempatkan disebelah jasad Jayaprana agar selamanya kedua kekasih ini dapat selalu bersama.
Sedangkan patih Sawung Galing yang dengan setianya menjalankan titah raja turut serta ditempatkan dilokasi tersebut sebagai simbol kesetian seorang abdi.
Teluk Terima memang sering dikaitkan dengan legenda Jayaprana-Layonsari. Kisah ini diyakini memang benar-benar terjadi karena ada kuburannya. Kuburan Jayaprana dan Layon Sari ini terletak di kawasan hutan belukar Teluk Terima, Desa Sumber Klampok, Kecamatan Gerokgak, ± 67 km sebelah barat Kota Singaraja. Kuburan Jayaprana sering mendapat kunjungan dari masyarakat Bali pada khususnya, setiap Bulan Purnama dan Bulan Mati (Tilem) dan hari – hari suci lainnya seperti Galungan, Kuningan, dan lain – lain banyak umat melayat datang ke kuburan ini.
2 comments:
teruskan perjuangannya
Kisah Jayaprana-Layonsari ini memang benar terjadi. Namun sangat disayangkan banyak orang yang sejatinya tidak paham benar akan sejarah telah menyesatkan banyak orang. Termasuk anda. Saran saya, untuk menampilkan sesuatu ke public mohon dikaji terlebih dahulu kebenarannya. Seperti halnya yang anda sampaikan ini adalah suatu penyesatan/kebohongan publik dan pembodohan.
Asal anda tahu, Kerajaan Kalianget hancur bukan "Karena tipu muslihat dan angkara murka seorang raja". Benar-benar sok tahu....
Post a Comment