




Tenganan Pegeringsingan terletak di Kecamatan Manggis, sekitar 65 km dari Denpasar (Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Bali), sekitar 3 km dari Candidasa dan dapat dijangkau dengan mudah oleh kendaraan umum atau pribadi. Desa seluas 1.496,002 hektar berpenghuni sekitar 600 jiwa yang terdiri atas 3 banjar yaitu banjar Kauh, banjar Kangin dan banjar Pande menebarkan aroma kultur budaya abad ke-11.
Tenganan merupakan salah satu dari beberapa desa kuno di Bali, yang biasanya disebut "Bali Aga". Ada beberapa versi tentang sejarah tentang desa Tenganan. Ada yang mengatakan kata Tenganan berasal dari kata "tengah" atau "ngatengahang" yang berarti "bergerak ke daerah yang lebih dalam". Penurunan kata ini berhubungan dengan pergerakan orang-orang desa dari daerah pinggir pantai ke daerah pemukiman, dimana posisi desa ini adalah di tengah-tengah perbukitan, yakni Bukit Barat (Bukit Kauh) dan Bukit Timur (Bukit Kangin).
Versi lain mengatakan bahwa orang-orang Tenganan berasal dari Desa Peneges, Gianyar, tepatnya Bedahulu. Berdasarkan cerita rakyat, dulu Raja Bedahulu kehilangan salah satu kudanya. Orang-orang mencarinya ke Timur dan sang kuda ditemukan tewas oleh Ki Patih Tunjung Biru, tangan kanan sang raja. Atas loyalitasnya, sang raja memeberikan wewenang kepada Ki Patih Tunjung Biru untuk mengatur daerah itu selama aroma dari I carrion kuda tercium. Ki Patih seorang yang pintar, is memotong carrion menjadi potongan-potongan dan menyebarkannya sejauh yang dia bisa lakukan. Dengan demikian dia mendapatkan daerah yang cukup luas.
Kata Pegeringsingan diambil dari kata "geringsing". Geringsing adalah produk tenun tradisional yang hanya dapat ditemukan di Tenganan. Gerinsing dianggap sakral yakni menjauhkan kekuatan magis jahat atau black magic. Geringsing diturunkan dari kata "gering" yang berarti sakit dan "sing" yang berarti tidak.
Harga setinggi itu diberikan untuk kain selebar dua jengkal tangan dengan panjang seperti selendang. Harga setinggi itu bisa dikatakan tinggi dan bisa juga tidak, karena kain geringsing hanya diproduksi di Tenganan. Pengerjaannya pun makan waktu lama, karena warna yang digunakan berasal dari tumbuh-tumbuhan, butuh perlakuan khusus.Warna merah, misalnya, dari akar sunti dari Nusa Penida. Sementara warna kuning berasal dari minyak kemiri. Agar warna bisa merasuk ke dalam serat-serat benang, prosesnya panjang. Warna kuning, agar bisa muncul, perlu pemrosesan selama satu bulan tujuh hari. Warna merah, perlu proses tiga hari. Seterusnya, semuanya secara total mencapai lama pemrosesan (cuci-jemur-simpan) secara tiga bulan.
Kerajinan tangan lainnya yaitu seni menulis dan melukis di atas daun lontar serta anyaman ata (bahan dasarnya didapat dari Pulau Flores). Kerajinan anyaman ata ini mulai dikenal di Tenganan setelah ada tameng (perisai) yang rusak dalam acara geret pandan-tarian pemuda.
Perang Pandan diadakan setiap tahun pada sasi (bulan) kelima bertepatan dengan Hari Raya Sambah. Ritual ini untuk menghormati Dewa Indra, sosok dewa perang. Sebagai pengikut Dewa Indra, penduduk Tenganan percaya sebagai keturunan ksatria perang.
Selain kerajinan tangannya, Desa Tenganan akan menyuguhkan keindahan Bali tempo dulu. Tiga balai desanya dan rumah adat yang berderet yang sama persis satu dengan lainnya. Dan tidak hanya itu didesa ini keturunan juga dipertahankan dengan perkawinan antar sesama warga desa.
Desa Tenganan memiliki sebuah sistem penanggalan yang hingga kini tetap dipertahankan sebagai sistem penanggalan baku. Hal ini dikarenakan berkaitan erat dengan penentuan dan pelaksanaan upacara-upacara adat dan keagamaan di daerah tersebut.
Kalender Tenganan menggunakan bilangan tahun yang sama dengan Kalender Saka Bali, juga penamaan bulan (sasih) yang sama, yaitu menggunakan nama bulan Kasa hingga Sada. Serta memakai istilah purnama, tilem (bulan mati) panglong dan penanggal.Menurut kalender tenganan, tahunnya terbagi atas 3 jenis, yaitu: Tahun I, Tahun II dan Tahun III. Untuk mengetahuinya cukup dengan dibagi tiga. Apabila bersisa 1, maka disebut tahun I, jika bersisa 2 maka disebut Tahun II dan jika habis dibagi 3, maka disebut Tahun III.
Berdasarkan jenis tahun tersebut, diadakan upacara yang disebut dengan Sambah pada sasihkalima. Pada Tahun I dan II diadakan upacara Sambah biasa, namun pada Tahun III diadakan upacara Sambah Muran. (bulan)
Selain adanya penamaan tahun, perbedaan yang mencolok adalah adanya sasih ke-13 pada setiap Tahun III, yaitu adanya sasih yang diselipkan pada bulan ke empat, sasih kapat sep.
Umur sasih dalam penanggalan Tenganan
| Sasih. | Tahun I Sambah Biasa | Tahun II Sambah Biasa | Tahun III Sambah Muran |
|---|---|---|---|
| Kasa (I) | 30 Hari | 30 Hari | 30 Hari |
| Karo (II) | 30 Hari | 30 Hari | 30 Hari |
| Katiga (III) | 30 Hari | 30 Hari | 30 Hari |
| Kapat (IV) | 30 Hari | 30 Hari | 30 Hari |
| Kapat Sep (IV) | - | - | 27 Hari |
| Kalima (V) | 30 Hari | 30 Hari | 30 Hari |
| Kanem (VI) | 30 Hari | 30 Hari | 30 Hari |
| Kapitu (VII) | 30 Hari | 30 Hari | 30 Hari |
| Kaulu (VIII) | 30 Hari | 30 Hari | 30 Hari |
| Kasanga (IX) | 30 Hari | 30 Hari | 30 Hari |
| Kadasa (X) | 30 Hari | 30 Hari | 30 Hari |
| Desta (XI) | 30 Hari | 26 Hari | 28 Hari |
| Sada (XII) | 30 Hari | 26 Hari | 28 Hari |
| Jumlah | 360 Hari | 352 Hari | 383 Hari |
Berada di desa ini kita merasakan suasana yang aman dan damai, para penduduk desanya yang sangat ramah dan bersahabat. Kita dapat berkeliling areal desa tersebut dan menyaksikan aktivitas mereka sehari hari. Saat yang paling tepat kita berada disana pada saat sore hari, karena pada sore hari biasanya mereka penduduk desa Tenganan sudah melakukan aktivitasnya. Dan berkumpul didepan rumahnya masing-masing, dan tak ayal mereka keluar dan berkumpul bersama para penduduk yang lain. Dan pada saat ini kita dapat menyaksikan dan melihat tingkah laku dan adat budaya tradisional mereka yang amat kental.
0 comments:
Post a Comment